Blogger templates

2131 "KLIK JUDUL ARTIKELNYA KAWAN UNTUK BACA SELENGKAPNYA"

Sabtu, 26 Maret 2011

“ Tinjauan Kritis Terhadap Trend Gerakan Mahasiswa “

( Buat Kawan Di Tengah Pusaran Keresahan )

Mahasiswa adalah aset masa depan sebuah bangsa. Mereka adalah pewaris syah bagi regenerasi sebuah negeri. Mahasiswa menjadi lokomotif perubahan sosial atas kontribusinya yang signifikan dalam pembangunan dan tata peradaban bagi bangsanya. Meskipun dengan status belianya sebagai
mahasiswa, namun justru status itulah yang menempatkan posisi tawar mahasiswa kian layak untuk diperhitungkan. Dalam bentangan sejarah negara-negara di dunia tidak terlepas dari kontribusi mahasiswa dalam kancah perubahan konstelasi politik di dalamnya. Mahasiswa menunjukkan bukti kongkrit bahwa mereka adalah komponen “people power” bagi negara. Meskipun situasi abad masa kini menempatkan mahasiswa pada posisi ancaman berbahaya bagi integritas sebuah bangsa, mahasiswa tetaplah mahasiswa. “educated middle class” mungkin merupakan alasan yang cukup beralasan atas pertanyataan bahwa mahasiswa layak untuk diperhitungkan.
Mahasiswa sendiri merealitakan bargaining position-nya tersebut dengan wujud aksiomatik pro-kebenaran dan keadilan. Ini sebagai wujud nyata dari aspirasi nurani yang mereka suarakan dengan bahasanya mahasiswa. Unik dan khas. Gerakan-gerakannya membentuk pola-pola tertentu sesuai situasi dan kondisi yang lazim dialami bangsa dimana komponen mahasiswa itu berkumpul. Tidak heran jika dikatakan gerakan mahasiswa tidak akan selalu sama antara negara satu dengan negara lainnya, antara era yang satu dengan era yang lainnya. Semuanya khas sesuai situasi dan kondisi di tempat bernaungnya mereka dalam rengkuhan Tanah Airnya. Adakalanya, gerakan mahasiswa beranjak dari semangat intelektualitas membuat pola ilmiah melaui forum-forum diskusi dan diskursus-diskursus ilmiah, disisi lain mahasiswa juga sering terlihat menggunakan media kontrol sosial dan moral dengan tindakan intelectual pressure. Namun satu yang selalu sama, kekritisan pada jiwa muda mereka yang menjadi modal dan kekuatannya.
Terhadap aksi-aksi sosial mahasiswa, Burhan D Magenda (1997) membahasakannya dengan “no blesse oblige”. Artinya, eksisnya mahasiswa terbangun atas etika semangat militansi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Mungkin saja. May be yes, may be no. Yang jelas, ada alasan ilmiah sebagai bukti pembenaran atas eksistensinya yang saya katakan “hampir selalu oposisi”. Arbi sanit (1985) mendefinisikan pembenaran tersebut dengan lima alasan ilmiah. Pertama, mahasiswa sebagai kelompok masyarakat dengan memperoleh pendidikan terbaik, memiliki persfektif atau pandangan cukup luas untuk dapat bergerak disemua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai golongan yang cukup lama bergelut dengan dunia akademis dan telah mengalami proses politik terpanjang diantara generasi muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik di kalangan mahasiswa dan terjadi akulturasi budaya tinggi diantara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan dipersiapkan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan memiliki keistimewaan tertentu dalam masyarakat sebagai kelompok elit di kalangan pemikiran, perbincangan, dan penelitian berbagai masalah timbul di tengah kerumunan masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum sekaligus kemudian mengangkatnya ke jenjang karier sesuai dengan keahliannya.
Melacak akar sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia
Gerakan mahasiswa di Indonesia seolah sudah mengakar rumput dan menjadi potret heroik atas militansi perjuangan yang didasarkan kepada perbaikan, kebenaran, dan keadilan. Sejarah singkat timbulnya gerakan mahasiswa di Indonesia adalah lebih disebabkan oleh mulai berdirinya sekolah tinggi-sekolah tinggi bentukan belanda yang memperbolehkan –meski kebanyakan hanya untuk keturunan bangsawan saja- pribumi untuk mengenyamnya. Ditambah lagi, beasiswa-beasiswa sekolah di luar negeri yang dialami oleh anak-anak pribumi yang kelak menjadi angin segar bagi penaikan tingkat intelektualitas anak-anak pribumi kala itu. Entah diilhami oleh Gerakan Mahasiswa dari luar negeri atau pun gejala spontanitas atas atmosfir ketidak beresan di dalam negerinya, Gerakan Mahasiswa persiapan Indonesia ini mulai menemukan format ideal atas pergerakannya. Dapat dijadikan contoh betapa kekuatan Gerakan Mahasiswa yang mampu memobilisasi massa dan memassifkan issu sehingga menjadi kekuatan menakutkan bagi dunia. Tengok saja bagaimana runtuhnya kekuasaan Peron di Argentina 1955, Perez Jimmenes di Venezuela 1958, Diem di Vietnam 1963, Ayub Khan di Pakistan 1956, Revolusi Kebebasan Polandia 1956, Revolusi Hongaria 1956, Revolusi Spanyol 1930, Pembebasan Cekoslovakia, Revolusi di Russia 1860-70an semakin menambah deret keperkasaan mahasiswa dan mengilhami para penerusnya untuk mempertahankan kekuatan pressure mahasiswa tersebut. Di Indonesia sendiri runtuhnya Soekarno dan tumbangnya rezim Soeharto adalah buah dari eksistensi keperkasaan mahasiswa. Melacak sejarah gerakan di Indonesia ditandai dengan beberapa periode atau masa-masa penting yang terjadi di Negeri ini yang menjadikan fluktuatif gerakan mahasiswa dalam kancah sejarah Indonesia. Jami’at Khair (1901) sebagai salah satu kampus dan organisasi modern pertama di Indonesia menjadi salah satu lokomotif pergerakan mahasiswa. Atau kemudian kita dipertemukan dengan sebuah Organisasi Boedi Oetomo yang mengisyaratkan kepada kita bahwa era 1900an menjadi babak awal perkembangan pergerakan mahasiswa di Indonesia. Dibawah ini saya coba sajikan beberapa periode petumbuhan dan perkembangan Gerakan Mahasiswa sebagai kajian atas sejarah “People Power” di Indonesia.
Gerakan Mahasiswa Pasca Kemerdekaan hingga tragedi 65-66
Pasca Kemerdekaan, Gerakan Mahasiswa mulai membentuk wadah-wadah permanen wahana perjuangan. Awal fase ini menunjukkan konsentrasi Gerakan Mahasiswa kepada pengelolaan hasil jerih payah mereka. Yaitu kemerdekaan Indonesia. Mahasiswa dihadapkan pada keadaan dilematis yang minim pengalaman dalam hal pengelolaan sebuah negara. Tahun 60an jumlah mahasiswa mengalami peningkatan tajam. Dan dalam tahun-tahun ini kondisi mahasiswa semakin merujuk pada kondisi sulit. Awal 60an menjadi momentum awal mahasiswa untuk banting stir haluan pergerakan dengan dihadapkan pada dua kekuatan yang coba mengintervensi di ranah baru pemikiran mereka. Kedua kekuatan provokatif itu adalah LEKRA dengan hegemoni Romantisme Revolusionernya dan Universitas-Universitas Amerika dengan Manifesto Kebudayaannya.
Pertengahan 60an, konflik internal di tubuh mahasiswa atas pro-kontra revolusioner melahirkan wujud baru Gerakan Mahasiswa melaui kesatuan-kesatuan aksi. Hal ini lebih disebabkan oleh kekecewaan atas Demokrasi Terpimpinnya Soekarno yang bertentangan langsung dengan paham Demokrasi Liberal yang mereka terima. Demokrasi Terpimpinnya Soekarno dirasa membelenggu Hak Asasinya, diperparah lagi dengan condongnya Soekarno kepada PKI. Saat itulah militer mencoba mengambil peluang di lokasi buntu ini. Dengan sedikit tekanannya kepada pemerintah, Supersemar menjadi legitimasi keabsahan kebrutalannya dengan menggandeng mesra mahasiswa sebagai partner kudetanya. Pecah G30S menandai berangsur kroposnya rezim Soekarno dalam Pemerintahan Indonesia. Sampai 70an, Gerakan Mahasiswa menjadi sahabat setia Orde baru kala itu.
Gerakan Mahasiswa Versus Orde Baru
1. Gerakan Mahasiswa 1974 (Peristiwa Malari)
Masa ini menandai semakin matangnya konsep politik mahasiswa yang kemudian berubah haluan pada konsep “Moral Force”. Artinya, mahasiswa hanya akan menjadi aktor politik ketika situasi bangsa sedang kritis, lepas kekritisan back to campuss. Kritikan yang dilayangkan oleh mahasiswa hanya sebatas permasalahan. Jauh dari pengumpulan massa yang besar. Namun, konstelasi politik yang fluktuatif kemudian menggairahkan kembali kebangkitan angkatan baru Gerakan Mahasiswa Indonesia. Dinamisasi kampus terjadi lagi dengan timbulnya berbagai aksi protes di jalan-jalan yang dilakukan oleh mahasiswa. Represif orde baru pun mulai menggeliat saat teriakan-teriakan mahasiswa dirasa mulai memerahkan telinga. Terbukti dengan penangkapan aktivis pasca protes atas pembangunan TMII yang dirasa hanya sebuah bentuk pemborosan dana negara. 1973, lahirnya UU perkawinan menambah hangat suasana yang kemudian meretakkan keharmonisan antara Gerakan Mahasiswa dengan Orde baru. Peristiwa “Malari” atau lebih dikenal dengan Petaka L:ima belas januari menjadi klimaks awal bermusuhannya orde baru dengan suara-suara moral mahasiswa. Unik pada peristiwa ini dan layak untuk diperhatikan oleh khalayak adalah pasca Malari Orde Baru meneruskannya dengan penangkapan para aktivis dan pembredelan pers mahasiswa. Ternyata pemerintah lebih takut terhadap propaganda tertulis daripada wcana dialogis yang dipentaskan mahasiswa di panggung sejarah. Pers mahasiswa menjadi bagian penting bagi Gerakan Mahasiswa.
2. Gerakan Mahasiswa 1978 hingga NKK/BKK
Momentum berikutnya yang memicu kebangkitan Gerakan Mahasiswa adalah Pemilu 1977 yang menyuarakan penolakan atas hasil pemilu yang memenangkan Golkar. Gerakan Mahasiswa kemudian disambut oleh SK Mendikbud no.037/U/1979 dan Instruksi nomor 1/U/1978 yang kemudian secaara beruntun keluar lagi SK Mendikbud no.0156/u/1978 dan dari dikti keluar Instruksi no.002/DK/Inst/1978 yang melegitimasi penormalan gerakan mahasiswa di kampus. Artinya, mulai saat itu berlakulah NKK/BKK serentak di seluruh kampus Indonesia. Setiap gerakan mahasiswa harus melalui kontrol kampus. Dan tidak ada kegiatan politik. Mahasiswa hanya diperbolehkan untuk mengadakan diskusi’akademik’ tentang subjek politik.
3. Gerakan Mahasiswa Pasca 78 hingga 98
Kesan mendalam terhadap suksesnya pemerintah dengan NKK/BKK melahirkan militerisasi di dalam kampus. Mahasiswa pengkhianat demokrasi pun menjadi antek militer yang dilatih untuk menjadi intel kampus dan setia mengawasi gerak gerik mahasiswa yang anti-Pemerintah. Birokrat kampus tidak ubahnya seperti kambing congek yang menjadi hamba kekuasaan dan alat pemerintah dan mengabaikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Namun kemandegan mahasiswa tidak berlangsung lama. Pagar yang membatasi kekritisan mahasiswa pun dipanjat oleh kreativitas golongan terdidik yang cerdik. Terbentuklah format baru dalam masa ini melalui Kelompok Studi yang dijadikan mahasiswa arena mengasah kemampuan kritis atas persoalan sosial politik dan alternatif atas kemandulan Ormawa kampus dalam penyaluran ide mengenai perubahan sosial. Gerakan Mahasiswa mengaplikasikan hasil diskusi tersebut dengan cara pengorganisasisan di basis masyarakat. Dekade 90-an Kelompok Studi mulai merambah kritisi atas peranan ABRI.
Ditengah semakin kerasnya represif Pemerintah yang telah membelenggu mahasiswa, badai Krismon kemudian datang menerjang ditahun 1997. seluruh Asia Tenggara luluhlantak dan perekonomian Indonesia yang telah dirintis selama kurang lebih 30 tahun oleh Sang Bapak Pembangunan, Soeharto, runtuh dalam sekejap. Awal 98 krisis yang mulai merambah setiap kepala keluarga dan mendrastiskan orang menjadi miskin di negeri kaya ini menyebabkan Gerakan Mahasiswa kembali menemukan momentumnya. Geliat awalnya ditandai dengan tuntutan turunkan harga hingga reformasi dan turunkan Soeharto. Aksi turun ke jalan mulai laris lagi. Dan kali ini semakin menunjukkan kemajuan baik secara kualitatif, maupun kuantitatif. Bagaimana dengan tindakan represif? Lebih parah dari yang sebelum-sebelumnya. Bahkan lebih dahsyat dari momentum 66, maupun 74. namun jiwa muda mahasiswa tidak pupus begitu saja. Darah rekan-rekan mereka yang tumpah karena memperjuangkan kebenaran akhirnya ditebus dengan lepasnya belenggu orde baru yang ditandai Reformasi di segala bidang.
• Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi
Hingga pasca reformasi, gerakan mahasiswa tetap berada di jalur pressure yang menggiring reformasi hingga sesuai sasaran. Dengan jargon reformasi belum usai mereka terus menggemakan tuntutan dan tuntutan. Masa ini, lagi-lagi mahasiswa tidak belajar dari pengalaman, Gerakan Mahasiswa seolah mengalami de ja vu masa lalu. Gerakan Mahasiswa terfragmentasi dan mulai tersusupi oleh berbagai kepentingan-kepentingan ghaib elite politik. Jadilah kemudian timbul ketidaksolidan di tubuh internal gerakan Mahasiswa sendiri. Masa Habibie, fragmentasi awal bermula. Beberapa mendukung Habibie dengan syarat, beberapa lagi menolak mentah-mentah. Sampai disini, aksi demonstrasi dirasa masih sangat efektif dalam menyuarakan aspirasi dan langsung mengena sasaran. Mahsiswa di masa Gus Dur kembali dihadapkan pada dua kutub masalah. Pemerintah dengan Birokrat Kampus sebagai kroconya, dan internal Gerakan Mahasiswa yang telah membelah karena perbedaan ideologi, cara pandang, dan terkhusus lagi provokasi. Issu yang diangkat mahasiswa pada masa ini sampai masa kepemimpinan Megawati adalah menyoal kasus privatisasi besar-besaran terhadap aset nasional dan merambah ke pendidikan.
• Gerakan Mahasiswa Masa Kini dan Akan datang
Sebuah analisis dan prediksi warisan kabinet gotong royong menyisakan PR besar bagi rezim SBY-JK untuk segera menuntaskannya. Menilik perjalanan Gerakan Mahasiswa beberapa tahun terakhir , mendudukkan peran mahasiswa terhadap perubahan sosial yang sangat penting, meski tidak selalu menentukan. Mengapa demikian? Analisis saya menunjukkan bahwa Gerakan Mahasiswa masih labil dan prematur akan hasil berpikir. Artinya, konsep yang ditawarkan mahasiswa tidak matang dan siap pakai. Mahasiswa hanya bisa menjatuhkan, namun tidak memberi solusi lebih baik setelahnya. Hanya memberi giliran saja pada rezim satu kepada rezim berikutnya untuk bercokol. Contoh kecil GM 78, mahasiswa mewacanakan penolakan pencalonan kembali Soeharto menjadi presiden, namun mereka tidak menyinggung mengenai sistem yang dibangun oleh Soeharto. Kasus 98 juga menunjukkan kegamangan GM yang gagal menciptakan iklim stabil bagi stabilitas negara. Hingga Era sekarang, Gerakan Mahasiswa terbagi atas dua fragmen penting timbul gejalanya. Yang satu terbangun atas ideologi dan paradigmanya yang diperhangat oleh sejarah kekokohan GM itu sendiri. Yang satunya terbangun atas spontanitas yang melahirkan kelompok opportunis. Menjelang 2005 hingga 2008, peta pergerakan mahasiswa belum menunjukkan pergesaeran paradigma yang signifikan. Gerakan Mahasiswa tetap memosisikan diri pada posisi “Moral Force” yang menjalankan fungsinya sebagai Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock. Prediksi saya, hingga dua puluh tahun mendatang Gerakan Mahasiswa tidak akan terlalu mengalami perubahan peta pergerakan. Trennya akan terus terbangun atas “kegelisahan” yang diaktualisasikan melalui media aksi massa. Namun konstealasi politik yang berada di negaranya juga memberi pengaruh terhadap tumbuh kembangan bergantinya tren gerakan mahasiswa. Satu hal yang patut direnungkan, Gerakan Mahasiswa bukanlah gerakan yang anarkis berjuang atas kekerasan dan radikalisme. Gerakan Mahasiswa adalah gerakan intelektual sebagai muara dari kalangan akademisi kampus yang mengedepankan rasionalitas dalam penyikapan masalah. Dan sejatiny asebuah Gerakan Intelektual, pastilah akan terbangun atas tradisi yang dibahasakan oleh Andriani Achmad sebagai Trias Tradition bagi mahasiswa. Tradisi diskusi, menulis, dan membaca. Tiga hal inilah yang kemudian akan menjadi akar pergerakan mahasiswa sebagai komponen penting dalam sebuah bangsa. Tidak akan ada lagi istilah “mahasiswa hanya bisa demo” jika “trias Tradition” ini dilaksanakan. Ruang-ruang diskusi akan membawa Gerakan Mahasiswa menjadi sebuah Gerakan yang rasional. Dan ini akan menjadi good supporting feedback dari masyarakat. Sebagai contoh yaitu dalam pengkajian masalah untuk kemudian memutuskan aksi massa, mahasiswa seyogyanya mengkaji secara detil masalah tersebut. Hal ini tentu akan melahirkan gagasan dan analisa yang cemerlang. Aktualisasi dan keakuratan data sangat penting bagi Gerakan Mahasiswa dalam mengkritisi dan bertindak. Tradisi menulis, akan menjadikan mahasiswa menuju gerbang intelektual yang sebenarnya. Wacana yang dibangun akan lebih mudah terdistribusikan melalui bentuk tulisan. Pengalaman atas reperesifnya pemerintah pun menyadarkan pada kita akan arti penting sebuah tulisan. Namun sangat disayangkan hingga detik ini tradisi menulis di kalangan mahasiwa seolah mengalami mati suri. Sangat penting untuk menghidupkan kembali tradisi menulis yang ditunjukkan melalui geliat pers mahasiswa yang berperan sebagai informasi, motivator, sosialisasi, integrasi, wahana debat dan diskusi, edukator, inspirator, provokatif dan korektor. Ruang membaca menjadi mutlak bagi mahasiswa yang ingin mengaktualisasikan issunya dalam bergerak. Tanpa membaca, gerakan mahasiswa dan issu yang dibangunnya akan mejadi kering kerontang, miskin referensi, tidak ilmiah dan mengada-ada. Mahasiswa yang pintar adalah mahasiswa yang membaca. Membaca adalah pintu gerbang pengetahuan. Dan dari ketiga tradisi ini, semoga dan harapan kita semua Gerakan Mahasiswa bisa kembali menuju gerbang intelektual yang sebenarnya dan mimbar kehormatan seutuhnya. Ayo, kembalikan kejayaan mahasiswa!!! Berbahagialah kita menjadi bagian dari sebuah civitas akademika. Berjuanglah, jangan titipkan perjuangan ini pada siapapun. Hidup terlalu indah untuk tidak diperjuangkan. Hidup Mahasiswa...!!!




Tulisan ini buat generasi penggerak yang memegang teguh rasa keadilan
Tulisan ini buat generasi penggerak yang tak takluk akan penindasan
Buat sahabatku (mahasiswa) yang haus akan kebebasan

Kapan kita bersama, menggemborkan konteks intelektualisme kita dalam bingkai kesejahteraan???

Manusia yang merdeka adalah manusia yang tak takluk akan penindasan,
Kata-kata adalah senjata…

0 komentar:

Posting Komentar